Mimpi itu menyenangkan. Setiap harapan kita bisa dikabulkan didalamnya. Tak perlu usaha atau bermodal materi. Tak perlu keringat maupun setumpuk uang. Hal yang sudah sirna bisa kembali nyata. Khayalan akan seperti fakta.
Mimpi itu menyeramkan. Diawali dengan terpenuhinya semua keinginan. Terlarut dan mabuk dalam fantasi. Lalu, terbangun dan tersadar akan kebenaran. Apa yang baru saja kita rasakan ternyata tidak berlaku pada dunia nyata.
Bisa saja semangat ataupun puas. Bisa juga pesimis dan juga tertunduk malu. Efek bunga dari tidur yang tak kekal mekarnya.
1000 mimpi tak cukup penuhi lara. 1000 mimpi tidak perlu ada. 1 mimpi yang menjadi kenyataan mungkin sudah cukup untuk menutup semuanya.
Minggu, 22 Januari 2012
Rabu, 30 November 2011
Mencari hal yang baru atau memperbaiki yang sudah ada?
Dua pertanyaan ini menggangu saya belakangan hari ini. Hal baru vs Yang sudah ada. Setiap memilih salah satu jawaban diatas, akan terasa dilema.
Mencari hal yang baru bukanlah sesuatu yang bodoh, bahkan lebih terlihat visioner. Hal ini menunjukan ketidakpuasan kita yang disalurkan dengan usaha yang lebih giat. Tapi, ketidakpuasan ini juga bisa jadi bumerang. Ketidakpuasan yang tidak berujung akan mendorong kita menjadi seseorang yang tidak bersyukur. Hal ini bertentangan dengan jika kita lebih memilih sesuatu yang sudah ada dan memperbaikinya agar lebih baik. Dalam opsi ini kita dituntut untuk lebih bersyukur dengan sesuatu yang kita miliki.
Dari sudut pandang saya, dua hal tersebut adalah pasangan yang cocok. Dilihat dari sisi sosial, sesuatu yang sudah ada tidak akan bertahan jika hidup sendiri. Bagaimana cara membuatnya lebih baik jika hanya sendiri. Hal baru juga tidak akan efektif jika tidak memiliki dasar. Hal tersebut akan terlihat seperti mengumpulkan emas dan berlian kedalam kantong yang berlubang.
Saya rasa dua hal yang bersinggungan itu sebenarnya berdiri sejajar. Mereka dapat menciptakan sesuatu yang baru, baik, dan sesuai. Layaknya sikat gigi, yang kini memiliki teman baru berupa pasta gigi, penyegar mulut, pembersih lidah, dan hal-hal yang baru lainnya. Mereka menghasilkan sinergi menjadikan fungsi sikat gigi menjadi lebih maksimal. Menghasilkan lebih baik dengan hal baru juga dengan tetap bersyukur akan hal yang sudah ada.
hahaha, maaf jika analogi yang saya pilih agak sedikit aneh. Kita semua boleh menganalogikannya dengan apapun yang kita mau.
Mencari hal yang baru bukanlah sesuatu yang bodoh, bahkan lebih terlihat visioner. Hal ini menunjukan ketidakpuasan kita yang disalurkan dengan usaha yang lebih giat. Tapi, ketidakpuasan ini juga bisa jadi bumerang. Ketidakpuasan yang tidak berujung akan mendorong kita menjadi seseorang yang tidak bersyukur. Hal ini bertentangan dengan jika kita lebih memilih sesuatu yang sudah ada dan memperbaikinya agar lebih baik. Dalam opsi ini kita dituntut untuk lebih bersyukur dengan sesuatu yang kita miliki.
Dari sudut pandang saya, dua hal tersebut adalah pasangan yang cocok. Dilihat dari sisi sosial, sesuatu yang sudah ada tidak akan bertahan jika hidup sendiri. Bagaimana cara membuatnya lebih baik jika hanya sendiri. Hal baru juga tidak akan efektif jika tidak memiliki dasar. Hal tersebut akan terlihat seperti mengumpulkan emas dan berlian kedalam kantong yang berlubang.
Saya rasa dua hal yang bersinggungan itu sebenarnya berdiri sejajar. Mereka dapat menciptakan sesuatu yang baru, baik, dan sesuai. Layaknya sikat gigi, yang kini memiliki teman baru berupa pasta gigi, penyegar mulut, pembersih lidah, dan hal-hal yang baru lainnya. Mereka menghasilkan sinergi menjadikan fungsi sikat gigi menjadi lebih maksimal. Menghasilkan lebih baik dengan hal baru juga dengan tetap bersyukur akan hal yang sudah ada.
hahaha, maaf jika analogi yang saya pilih agak sedikit aneh. Kita semua boleh menganalogikannya dengan apapun yang kita mau.
Minggu, 27 November 2011
Thought
I just realize that i am a loner. Poor loner.
My heart is too much of peace, too long of emptiness.
My heart is too much of peace, too long of emptiness.
Selasa, 22 November 2011
Refleksi
Menang, kalah, buruk, baik, cepat, lambat, semua yang disebutkan diatas hanya penilaian dari 5 indera yang kita punya. Nilai, hanya sebuah turunan dari persepsi yang didukung oleh keyakinan. Nilai tidak selalu benar. Nilai juga tidak selalu salah. Bentuk ilusi yang terasa visual. Itulah nilai.
Gw lebih suka menilai diri sendiri daripada menilai orang lain, kenapa? karena cuma kita yang punya daftar negatif dan positif diri kita. Untuk sadar akan hal tersebut memang bukan perkara mudah, tapi seenggaknya lebih enak jika menjadikan diri sendiri sebagai bahan percobaan dibandingkan orang lain yang menjadi objeknya.
Ini nyata, kita selalu menyerap nilai dari apa yang orang lain miliki. Kita capai apa yang orang lain capai. Kita berharap apa yang orang lain harapkan. Kita seperti bayangan dari khayalan dan orang lain. Padahal, Kita bisa membuat nilai itu nyata untuk diri sendiri. Nyata untuk impian kita. Nyata untuk bisa kita rasakan.
Bukan hal bodoh jika kita mengikuti orang lain, menginginkan keinginannya, mengikuti gayanya, mencari apa yang dia cari. Hanya terasa ironis karena kita seharusnya bisa jadi diri sendiri.
Gw lebih suka menilai diri sendiri daripada menilai orang lain, kenapa? karena cuma kita yang punya daftar negatif dan positif diri kita. Untuk sadar akan hal tersebut memang bukan perkara mudah, tapi seenggaknya lebih enak jika menjadikan diri sendiri sebagai bahan percobaan dibandingkan orang lain yang menjadi objeknya.
Ini nyata, kita selalu menyerap nilai dari apa yang orang lain miliki. Kita capai apa yang orang lain capai. Kita berharap apa yang orang lain harapkan. Kita seperti bayangan dari khayalan dan orang lain. Padahal, Kita bisa membuat nilai itu nyata untuk diri sendiri. Nyata untuk impian kita. Nyata untuk bisa kita rasakan.
Bukan hal bodoh jika kita mengikuti orang lain, menginginkan keinginannya, mengikuti gayanya, mencari apa yang dia cari. Hanya terasa ironis karena kita seharusnya bisa jadi diri sendiri.
Minggu, 06 November 2011
Bukan sejarah, bukan juga masa depan. Hanya lentera jiwa yang ingin bebas.
Waktu selalu dipandang relatif. Bilangan yang samar dimata manusia. Sepanjang jarum panjang bergerak, sependek pikiran berilusi. Setepat apapun waktunya, masih ada yang terlewatkan. Tumpukan kenyataan dan peristiwa yang menjadi kenangan, dianggap harta karun tak tergali. Sekali kenangan itu berakhir, tidak ada satupun yang dapat menggantinya. Proses kelahiran, tumbuh dan berkembang, belajar dan mencoba memahami hidup, berpikir, lalu mati. Kejadian tak tergantikan yang tersimpan entah sampai kapan.
Bukan cepatnya, atau lambatnya. Bukan besar atau kecilnya. Tapi tepat atau jujurkah kita pada diri kita dalam menggunakan waktu. Seiring dengan jalannya hidup, maka disitulah permainan berlangsung. Disaat kita sudah ada didalamnya, hanya perlu pilihan untuk menyelesaikannya atau mengganti permainannya. Dalam hal ini, bukan waktu yang menentukannya. Dalam hal ini, hati dan pikiranlah yang berperan besar.
Tidak ada yang sulit dan juga mudah. Dunia ini begitu ambigu hingga imajinasilah sebagai realitanya. Dosa dan pahala bisa bertukar dalam imajinasi. Hal itu juga berlaku pada kenyataan. Selama dunia ini masih ambigu dan akan terus ambigu hingga akhirnya, biarlah hati dan jiwa ini menentukan pilihannya. Bukan lagi waktu, pikiran, dan realita sebagai penghadangnya. Biarkan jiwa ini sedikit merasakan kebebasan sebelum direnggut paksa oleh kematian abadi.
Bukan cepatnya, atau lambatnya. Bukan besar atau kecilnya. Tapi tepat atau jujurkah kita pada diri kita dalam menggunakan waktu. Seiring dengan jalannya hidup, maka disitulah permainan berlangsung. Disaat kita sudah ada didalamnya, hanya perlu pilihan untuk menyelesaikannya atau mengganti permainannya. Dalam hal ini, bukan waktu yang menentukannya. Dalam hal ini, hati dan pikiranlah yang berperan besar.
Tidak ada yang sulit dan juga mudah. Dunia ini begitu ambigu hingga imajinasilah sebagai realitanya. Dosa dan pahala bisa bertukar dalam imajinasi. Hal itu juga berlaku pada kenyataan. Selama dunia ini masih ambigu dan akan terus ambigu hingga akhirnya, biarlah hati dan jiwa ini menentukan pilihannya. Bukan lagi waktu, pikiran, dan realita sebagai penghadangnya. Biarkan jiwa ini sedikit merasakan kebebasan sebelum direnggut paksa oleh kematian abadi.
Ikhlas
Tidak ada yang bersalah
Tidak perlu merasa bersalah
Tidak butuh menyesal
Dari semua tumpukan penyesalan
Hanya perlu keikhlasan
Karena hidup adalah pilihan
Tidak perlu merasa bersalah
Tidak butuh menyesal
Dari semua tumpukan penyesalan
Hanya perlu keikhlasan
Karena hidup adalah pilihan
Rabu, 02 November 2011
Langganan:
Postingan (Atom)